
Dukun Cabul
Posted Feb 15, 2007 Comments(0)

Sekitar setahun setelah saya bercerai, ada teman yang mengajakku
pasang susuk. Katanya sudah banyak teman-temannya yang kesana.
Pertama-tama saya tidak berminat, terus dia pergi sendiri. Seminggu
kemudian kami ketemu lagi, langsung saja saya bertanya bagaimana
susuknya. Dia cuma tersenyum sambil berkata, kamu kesana deh, cocok buat
yang sudah lama tidak begitu. Saya heran lalu saya tanya lagi apaan,
tapi dia tetap saja tersenyum. Karena penasaran, akhirnya saya juga
kesana. Ternyata dukunnya tidak jelek-jelek amat (seperti di film-film
kurus dan tua), malah cenderung ganteng walau agak berumur. Waktu saya
beri tahu maksud kedatanganku, dia bertanya-tanya banyak hal, seperti
standing saya, jadwal mens, dll. Sedikit heran, tapi saya jawab.
Terakhir akhirnya dia bilang, kalau pemasangan susuk yang saya minta
harus dilakukan lewat cara bersenggama. Mukaku langsung merah padam
(maklum, waktu itu saya baru menjanda, dan hubungan badan terakhir cuman
sama eks-suamiku). Tapi saya lihat, pak dukun justru tenang-tenang
saja, mukanya tidak berubah, tidak tahu apa dia punya ilmu hipnotis yang
bisa mempengaruhiku atau kepercayaanku bahwa dia betul-betul
profesional (sekedar ingin bersetubuh denganku), akhirnya saya setuju.


Lalu dia melakukan perhitungan berdasarkan jadwal mensku, terus dia
mencari tanggal yang tepat dimana saya lagi tidak subur. Pada hari yang
ditentukan, saya kembali lagi ke sana. Lalu saya dibawa ke belakang, ke
sebuah ruangan khusus (seperti ruang praktek dokter), terus disuruh
minum segelas minuman (spertinya itu obat perangsang, sebab tidak lama
saya langsung merasa relax dan panas). Sekitar setengah jam kemudian,
pak dukun masuk lalu mengambil topeng dari lemari. Saya lalu berbaring
diatas ranjang. Pelan-pelan pak dukun membuka kancing blusku. Setelah
terbuka semua blus itu disibakkannya ke pinggir (tidak dilepas).
Mulutnya komat-kamit membaca mantra lalu kepalanya mulai menunduk di
atas dadaku. Tak lama lidahnya mulai bergerak-gerak diatas putingku,
sambil tangannya mengelus-elus pahaku. Pengaruh obat dan rangsangan itu
membuatku melayang-layang. Tidak berapa lama saya sudah basah (kelewat
basah malah, karena saya sempat orgasme sama jari pak dukun). Lalu pak
dukun pindah di kakiku. Rokku dibuka, celana dalam juga. Terus dia
meniup-niup liang kewanitaanku sambil komat-kamit. Putingku rasanya
dingin karena BH yang saya pakai basah oleh ludah pak dukun (kebetulan
saya pakai BH yang renda-renda dan cupnya cuma sepotong). Setelah
ditiup-tiup, kakiku mulai dilebarkan. Lalu pak dukun menurunkan
celananya. Penis pak dukun panjangnya biasa-biasa saja (seperti
eks-suamiku) tapi punya dia lebih gemuk (sangat gemuk) dan melebar ke
samping. Di sini saya belajar bahwa panjang penis cowok tidak begitu
berpengaruh terhadap kenikmatan, tapi lebarnya yang berpengaruh. Pak
dukun ngocok-ngocok penisnya sambil komat-kamit membaca mantra. Terus
dia mulai memasukkan penisnya ke dalam liang senggamaku. Waduh,
rasanya…, tidak tahu apakah karena saya sudah lama tidak mendapat
service, atau memang nikmat, tapi yang jelas waktu itu saya sampai
berteriak keenakan. Pak dukun juga seingat saya cukup ahli memuaskan
wanita, sebab dengan goyangan-goyangan pantatnya itu saya sampai dua
kali orgasme. Dia sendiri sepertinya suffer juga (jelas, liang
kewanitaanku termasuk rapat dan diantara pasien-pasiennya saya termasuk
pale muda). Saya tidak peduli lagi, pokoknya kami berdua suffer banget.


Ketika saya memasuki orgasme yang ketiga, pak dukun juga sudah mau
orgasma. Penis gemuknya dihunjamkan sedalam-dalamnya ke dalam liang
senggamaku. Wah, saya langsung meledak sambil menjepit erat-erat
pantatnya. Bersamaan denganku, pak dukun juga meledak. Yang pale saya
ingat waktu itu, sambil merem-melek dan meringis keenakan, pak dukun
masih sempat mengucapkan mantera seperti, Aahh…, ss…, blablabla…, ss…,
hh…, blabla…, hh… ooh…, mm.., Terus dia membantuku melepaskan rasa
nyaman dengan menciumiku sambil mengelus-elus dadaku.
Setelah saya kembali sadar, dia juga mulai bangkit. Penisnya masih
menggelantung mengkilat, dia nmengambil hankie buatku. Lalu dia
menunjukkan pintu kamar mandinya. Wah, pakaianku berantakan dan kusut
(habis tidak dibuka sih).


Akhirnya saya cuma pipis dan mencuci kemaluanku sedikit saja. Waktu
keluar pak dukun sudah pakai baju. Terus dia bilang susuknya sudah
masuk, dibawa oleh spermanya katanya. Terus dia pesan saya jangan takut
hamil, karena sudah dihitung baik-baik harinya. Setelah menerima amplop
dariku (sesuai pesan teman 50.000 cukup), lalu saya disuruh pulang.
Sampai sekarang saya tidak tahu apa benar saya punya susuk, ataukah itu
cuma alasan dukun cabul untuk meniduri perempuan. Yang jelas waktu itu
saya merasa puas juga, dan syukur sampai hari ini saya tidak kena
penyakit kelamin atau sejenisnya. Saya pikir biarlah, hitung-hitung sama
saja dengan menyewa bebek.
Kabar terakhir tentang pak dukun, kata temanku dia pindah ke Ambon.
Saya tidak tahu di sana dia praktek juga atau tidak lagi. Tapi baru-baru
ini saya baca surat kabar KOMPAS (belum seminggu korannya), ada cerita
tentang dukun yang suka gituin istri orang. Mungkin itu dia, kalau kamu
tertarik bisa buka-buka koran kompas, tapi saya tidak pasti tanggalnya.
No comments:
Post a Comment